pasangan

Menikah berarti siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin menghadang jalannya perkawinan.

Pasangan sakit, misalnya. Apa yang dapat kita lakukan?

Menikah tentu bukan bersatu di saat senang saja, namun juga saat sulit. Banyak hal yang mungkin saja terjadi setiap saat. Walaupun menikah dengan seseorang yang sehat, memenuhi kriteria bibit, bebet, bobot, terpandang, berpangkat tinggi dan sebagainya. Namun tiba-tiba musibah menghadang.

Siapa yang bisa menjamin hidup berkeluarga selalu dalam keadaan bahagia dan sempurna?!

Pasangan kita yang tampak baik segala-galanya, tiba-tiba terserang penyakit yang cukup berat dengan waktu pengobatan yang lama.Tentu saja ini akan mempengaruhi kita yang merawat. Biasanya akan timbul kemarahan yang tertahan terhadap nasib buruk yang mendera, rasa takut, kecewa, merasa sendiri, malu, tidak berdaya, terpenjara, kehabisan energi dan banyak lagi perasaan negatif yang ikut menghantui.

Tak heran jika sebuah studi menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki pasangan yang sakit berat dalam perkawinannya, dan merawat sendiri pasangannya, memiliki kemungkinan mengalami depresi 6 kali lebih berat dibanding yang tidak merawat sendiri pasangannya.

Jadi apa yang dapat dilakukan?

~ Bangun komunikasi terbuka

Waktunya untuk menjalin persahabatan dengan pasangan.

Cobalah untuk terbuka membicarakan perasaan-perasaan diri kita, namun juga terbuka mendengarkan perasaan-perasaan pasangan. Namun upayakan untuk tahu batas, kapan bisa mengeluh dan kapan harus berhenti mengeluh. Kapan pasangan siap membicarakan sakitnya dan kapan ia sedang ingin menutup diri. Pada saat ini dibutuhkan kepekaan dan kebesaran hati kedua belah pihak untuk memahami apa yang sedang dirasakannya pada saat itu.

~ Pelajari dan hadapi penyakit bersama

Untuk menghilangkan kecemasan, pelajari penyakit bersama dan pahami kondisi terburuk serta hadapi kondisi tersebut bersama. Tidak ada orang yang bisa dengan tenang lari dari permasalahan. Dengan menghadapinya bersama-sama, maka ada rasa senasib dan sepenanggungan yang lebih meringankan, dibanding pasangan harus menghadapinya sendiri.

~ Menemui konselor

Jika perlu, tidak ada salahnya menemui seorang konselor untuk konseling masalah yang dihadapi. Lebih baik lagi jika menemui konselor berdua, atau pergi ke konselor yang sama, namun sesinya berbeda. Sehingga masing-masing bisa berkonsultasi tentang apa yang dirasakan masing-masing, dan membicarakan cara-cara menghadapi permasalahan tersebut.

~ Coba untuk lebih jelas mengutarakan keinginan.

Biasanya masing-masing kerap membuat bingung pasangannya dengan keinginan yang tidak dibicarakan dengan jelas.

Ingat, pasangan bukanlah seorang cenayang yang dapat membaca pikiran orang lain dengan jelas.

Mengapa tidak utarakan saja apa yang kita inginkan dengan jelas sehingga tidak membingungkan pasangannya.

~ Bagi pasangan yang merawat, coba jadwalkan ‘me time’

Depresi bisa melanda seseorang yang merawat sendiri pasangannya yang sedang sakit. Tanda-tandanya: ↓

• Menarik diri dari teman, keluarga dan orang-orang terdekat.

• Kehilangan keinginan untuk melakukan berbagai aktivitas.

• Merasa tidak berdaya dan tidak dapat membantu dirinya sendiri.

• Perubahan nafsu makan, bertambah banyak atau justru menghilang.

• Perubahan pola tidur.

• Sering sakit.

• Ingin melukai diri atau melukai orang lain.

• Lelah secara fisik dan mental.

• Mudah tersinggung.

Upayakan untuk mengambil libur secara berkala untuk melakukan hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian sesaat dari kesulitan yang dihadapi.

Anggap saja sebagai ajang mengumpulkan energi untuk dapat kembali kesisi pasangan dan merawatnya dengan hati yang lebih tenang.

~ Minta dukungan dari orang terdekat

Jangan malu minta bantuan dari keluarga maupun kerabat terdekat. Minimal untuk menggantikan merawat pasangan jika kita berhalangan atau sedang melakukan ‘me time’.

~ Jangan menutup diri

Biasanya jika ada yang sakit, maka seseorang akan cenderung menutup atau mengisolasi diri.

Silaturahmi tetap harus dipertahankan.

Siapa tahu lewat silaturahmi kita jadi tahu cara-cara pengobatan lain yang layak dicoba, atau informasi lain tentang penyakit yang belum kita ketahui sebelumnya.

~ Hadapi masalah keuangan bersama

Biasanya jika pasangan sakit, maka yang paling berpengaruh adalah masalah keuangan.

Pengobatan membutuhkan biaya, belum lagi jika yang sakit adalah orang yang membawa pemasukan terbesar di rumah.

Cobalah membicarakan masalah secara terbuka.

Pilah-pilah apa saja yang dapat dilakukan dan tidak dapat dilakukan pada si sakit untuk membuatnya tetap bekarya, yang juga berpengaruh pada semangatnya.

Misalnya, seorang yang lumpuh di kakinya, tentu masih dapat menyibukkan diri dengan belajar membuat dan mendisain web—misalnya– sehingga masih dapat menjual jasanya yang juga membuatnya merasa berarti. Atau jika suami sakit, sang istri tadinya tidak bekerja dapat mencoba peruntungan dengan mulai membuka bisnis online, atau mengasah kreatifitasnya yang lain.

Semua harus dihadapi bersama dengan sabar dan tawakal.

Jangan paksakan jika sakitnya benar-benar berat dan menghalangi seseorang untuk berkarya.